![]() |
| Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (UAB) tersebut menghadirkan gazebo pendidikan berbasis teknologi sebagai ruang belajar terbuka, inklusif, dan berkelanjutan.(Foto:Dok) |
Program yang digagas tim pengabdian kepada masyarakat Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (UAB) tersebut menghadirkan gazebo pendidikan berbasis teknologi sebagai ruang belajar terbuka, inklusif, dan berkelanjutan. Kehadiran GAZERA diharapkan tidak sekadar menjadi fasilitas fisik, tetapi berkembang sebagai pusat pembelajaran, pelatihan, diskusi, literasi, hingga pengembangan kapasitas masyarakat.
Program GAZERA dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dengan dukungan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya melalui Program Laboratorium Alam Edutechnopreneurship.
Tim pelaksana terdiri atas Eko Sugandi, S.Pd., M.Pd., Dr. Moch. Shofwan, M.Sc., dan Dr. Luqmanul Hakim, S.Or., M.Pd.
Program tersebut berangkat dari potensi sumber daya manusia dan modal sosial Desa Belik yang dinilai cukup kuat. Namun, di sisi lain, masyarakat masih menghadapi keterbatasan ruang belajar nonformal, belum meratanya literasi digital, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan kapasitas masyarakat.
Tantangan juga dihadapi kelompok masyarakat produktif, seperti pelaku UMKM dan BUMDes, terutama dalam aspek manajemen usaha dan pemasaran digital. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan GAZERA sebagai ruang yang mengintegrasikan pendidikan, teknologi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pelaksanaan program diawali dengan koordinasi bersama pemerintah desa dan masyarakat untuk memetakan kebutuhan sekaligus menentukan bentuk serta fungsi GAZERA. Pelibatan masyarakat sejak tahap awal dilakukan agar pembangunan fasilitas tidak berhenti pada penyediaan sarana, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.
Dari hasil koordinasi, masyarakat membutuhkan ruang belajar yang mudah diakses, tempat diskusi dan pembelajaran kelompok, sarana pelatihan keterampilan, fasilitas pendukung teknologi, serta ruang kegiatan yang dapat dimanfaatkan berbagai kelompok usia.
Sosialisasi kemudian dilakukan untuk memperkenalkan konsep GAZERA sebagai ruang belajar terbuka berbasis masyarakat. Respons masyarakat cukup positif. Berbagai gagasan pemanfaatan gazebo muncul, mulai dari belajar bersama, kegiatan literasi, pelatihan keterampilan, diskusi pemuda, pembelajaran berbasis teknologi hingga pengembangan kapasitas masyarakat.
Pembangunan GAZERA melibatkan tenaga lokal Desa Belik dan berlangsung sekitar 2,5 bulan. Gazebo ditempatkan di kawasan wisata desa dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan sekaligus potensi kawasan tersebut. Proses pembangunan juga mendapat pemantauan dari pemerintah desa.
Tidak hanya menyediakan bangunan, program ini juga dilengkapi perangkat teknologi untuk mendukung konsep smart learning space. Perpaduan antara ruang terbuka dan teknologi tersebut membuat GAZERA dapat difungsikan untuk belajar bersama, diskusi, pelatihan, kegiatan literasi, sosialisasi maupun pengembangan keterampilan masyarakat.
Rektor Universitas Adi Buana Surabaya, Dr. Untung Lasiyono, SE., M.Si., mengatakan konsep GAZERA merupakan salah satu bentuk implementasi visi UAB sebagai Universitas Edutechnopreneurship yang berdampak.
“Gazebo ini akan dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan manajemen usaha, digital marketing, serta forum diskusi kelompok usaha dan BUMDes maupun dunia pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan GAZERA juga diarahkan untuk mendukung masyarakat produktif secara ekonomi melalui pemanfaatan teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Sementara itu, Ketua Badan Penyelenggara Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Drs. H. Sutijono, MM., mengatakan GAZERA diharapkan mampu berkembang menjadi ruang belajar masyarakat yang aktif dan berkelanjutan.
“Ke depan, kegiatan yang dapat dikembangkan antara lain belajar bersama anak-anak, literasi digital, pelatihan keterampilan, diskusi pemuda, sosialisasi, kewirausahaan, serta berbagai kegiatan edukatif sesuai kebutuhan dan potensi Desa Belik,” katanya.
Wakil Rektor yang membidangi Kewirausahaan, Dr. Luqmanul Hakim, S.Or., M.Pd., menambahkan, GAZERA juga menjadi contoh bahwa pemanfaatan teknologi untuk pendidikan masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui fasilitas yang kompleks.
Menurutnya, integrasi ruang terbuka, perangkat teknologi, pengetahuan, pendampingan, dan partisipasi masyarakat dapat menjadi pendekatan sederhana namun strategis untuk memperluas akses pembelajaran sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat desa.
“Harapannya, program ini tidak hanya berdampak pada aspek pendidikan dan literasi, tetapi juga mampu mendorong peningkatan ekonomi masyarakat melalui penguatan keterampilan dan pemanfaatan teknologi,” ungkapnya.
Keberlanjutan GAZERA nantinya bertumpu pada kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Universitas Adi Buana Surabaya, Pemerintah Desa Belik, Karang Taruna, satuan pendidikan tingkat SD, SMP hingga SMK, masyarakat, wisatawan, serta pelaku ekonomi lokal.
Dengan kolaborasi tersebut, GAZERA diharapkan menjadi ruang belajar bersama yang terbuka, inklusif, produktif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mampu menjawab kebutuhan masyarakat Desa Belik dalam jangka panjang.
Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pemberdayaan desa tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga investasi terhadap pengetahuan, keterampilan, teknologi, dan kapasitas masyarakat sebagai modal utama pembangunan berkelanjutan.
Reporter:Red



