Petik Melon Candinegoro, Tumbuhkan Harapan dari Lahan Desa

 

Kegiatan Petik Melon Green Launching.(Foto:Sit)

SIDOARJO||KABARZINDO.com– Sebuah hamparan lahan sederhana di tengah kawasan persawahan Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (5/9/2026), menjadi ruang tumbuh bagi sebuah gagasan besar: bahwa desa memiliki potensi untuk membangun kemandirian pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat dari sektor pertanian.

Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan Petik Melon Green Launching yang dilaksanakan mulai pukul 10.07 WIB hingga selesai, di area persawahan samping desa dengan luas lahan sekitar 30 meter x 20 meter.

Sekitar 32 orang turut hadir dalam kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh antusiasme tersebut. Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan Bupati Sidoarjo, kegiatan pemetikan buah melon secara simbolis, doa, dan penutup. Kegiatan petik melon tersebut menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Di balik tanaman yang tumbuh di atas lahan seluas kurang lebih 600 meter persegi itu terdapat potensi untuk mengembangkan pertanian yang bernilai ekonomi sekaligus memperkenalkan alternatif komoditas hortikultura kepada masyarakat.

Melon merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki daya tarik tersendiri karena selain dapat dikembangkan pada lahan terbatas, hasil produksinya juga memiliki nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat. Bagi Desa Candinegoro, pengembangan budidaya melon dapat menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan lahan produktif sekaligus membuka ruang bagi inovasi pertanian di tingkat desa.

Pertanian tidak lagi semata-mata dipandang sebagai aktivitas produksi bahan pangan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal yang melibatkan petani, pemerintah desa, BUMDes, pemuda, pelaku usaha, hingga masyarakat. Konsep tersebut menjadi semakin relevan ketika desa mampu mengembangkan komoditas unggulan berdasarkan potensi wilayah dan kebutuhan pasar.

Kehadiran unsur pemerintah, TNI, kepolisian, legislatif, BUMDes, kader, serta generasi muda dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan sektor pertanian membutuhkan kerja bersama. Pertanian yang maju tidak hanya membutuhkan lahan dan teknologi, tetapi juga ekosistem yang mampu menghubungkan produksi dengan pemberdayaan masyarakat.

Dandim 0816/Sidoarjo Letkol Inf Abraham Prihadi, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Desa Candinegoro yang terus berupaya mengembangkan potensi pertanian melalui budidaya melon. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa lahan yang tidak terlalu luas sekalipun dapat memberikan manfaat apabila dikelola dengan kreativitas, pengetahuan, ketekunan, dan orientasi yang tepat. “Petik melon hari ini jangan kita lihat hanya sebagai kegiatan panen atau seremoni semata. Ini merupakan gambaran bahwa dari lahan yang terbatas pun kita dapat menciptakan sesuatu yang produktif dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Letkol Inf Abraham Prihadi.

Dandim menilai pengembangan pertanian seperti budidaya melon dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat kemandirian desa. Terlebih apabila proses budidayanya dilakukan secara berkelanjutan dan dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat. “Yang terpenting adalah bagaimana kegiatan seperti ini dapat berlanjut. Jangan berhenti pada kegiatan petik melon saja, tetapi harus ada proses pengembangan, evaluasi, peningkatan kualitas produksi, dan kalau memungkinkan sampai pada penguatan pemasaran. Dengan begitu, pertanian benar-benar memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” jelasnya

Menurutnya, keberhasilan sebuah program pertanian tidak hanya diukur dari banyaknya hasil panen, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menciptakan nilai ekonomi, membuka peluang usaha, meningkatkan keterampilan, serta mendorong masyarakat untuk semakin percaya terhadap potensi desanya sendiri.

Letkol Inf Abraham Prihadi juga menekankan bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus dibangun melalui program berskala besar. Ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan paling dekat, termasuk desa dan komunitas masyarakat. “Ketahanan pangan pada dasarnya dimulai dari kemampuan kita mengoptimalkan potensi yang ada. Kalau setiap desa mampu mengembangkan lahan produktif sesuai dengan karakteristik wilayahnya, maka secara bertahap akan terbentuk kemandirian pangan dan ekonomi di tingkat masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa TNI, khususnya melalui aparat kewilayahan, memiliki kepentingan untuk terus mendorong masyarakat agar memanfaatkan potensi wilayah secara produktif. Menurutnya, Babinsa dan jajaran Koramil tidak hanya memiliki peran dalam menjaga stabilitas wilayah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya pendampingan dan penguatan komunikasi dengan masyarakat dalam berbagai program pembangunan. “Kami dari TNI siap mendukung kegiatan positif masyarakat. Selama kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi warga dan mendorong produktivitas wilayah, tentu akan kita dukung melalui komunikasi, pendampingan, dan sinergi dengan pemerintah daerah maupun pemerintah desa,” tegasnya.

Dandim melihat kehadiran berbagai unsur dalam kegiatan Petik Melon Green Launching sebagai modal sosial yang penting.  Menurutnya, pemerintah daerah memiliki kebijakan dan program pembangunan, pemerintah desa memahami potensi wilayah, BUMDes dapat berperan dalam penguatan ekonomi, masyarakat memiliki tenaga dan pengalaman, sementara generasi muda dapat membawa kreativitas serta pendekatan baru dalam pengelolaan dan pemasaran produk. “Kolaborasi seperti ini yang harus terus kita bangun. Jangan berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah, TNI, Polri, DPRD, pemerintah desa, BUMDes, kelompok masyarakat, dan generasi muda memiliki peran masing-masing. Kalau seluruh potensi tersebut dipadukan, hasilnya tentu akan lebih kuat,” tuturnya.

Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan Karang Taruna Candinegoro dalam pengembangan potensi desa.  Menurutnya, generasi muda perlu diberikan ruang untuk terlibat dalam sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih modern, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. “Anak muda jangan sampai melihat pertanian sebagai sektor yang tertinggal. Justru pertanian hari ini membutuhkan inovasi, teknologi, kreativitas pemasaran, dan kemampuan membaca peluang. Di sinilah generasi muda dapat mengambil peran,” katanya.

Lebih jauh, Dandim berharap pengembangan budidaya melon di Desa Candinegoro dapat diarahkan menjadi kegiatan yang memiliki kesinambungan. Menurutnya, keberlanjutan menjadi aspek penting dalam setiap program pemberdayaan masyarakat. Sebuah kegiatan akan memberikan dampak lebih besar apabila memiliki perencanaan yang jelas mulai dari proses produksi, pengelolaan, pemasaran, hingga pengembangan pasar. “Menanam adalah langkah awal. Setelah itu bagaimana meningkatkan kualitas, bagaimana menjaga produktivitas, bagaimana mengemas hasilnya, bagaimana memasarkannya, dan bagaimana masyarakat memperoleh keuntungan yang layak. Rangkaian itulah yang akan menentukan apakah sebuah kegiatan pertanian mampu menjadi penggerak ekonomi desa,” jelas Letkol Inf Abraham Prihadi.

Ia berharap keberhasilan panen melon di Candinegoro dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk tidak ragu mengeksplorasi potensi lain yang dimiliki wilayahnya. “Semoga apa yang dilakukan di Candinegoro ini bisa menjadi contoh bahwa potensi desa dapat dikembangkan dengan cara-cara yang kreatif. Tidak harus menunggu lahan yang luas atau modal yang besar. Yang diperlukan adalah kemauan, perencanaan, kerja keras, dan kolaborasi,” harapnya.

Kegiatan Petik Melon Green Launching di Desa Candinegoro pada akhirnya menyimpan pesan yang lebih luas tentang bagaimana sebuah desa dapat memandang potensi yang dimilikinya. Lahan seluas sekitar 30 x 20 meter mungkin tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan hamparan pertanian lainnya. Namun dari ruang yang terbatas itu, masyarakat dapat belajar tentang produktivitas, inovasi, kerja sama, dan peluang ekonomi.

Di sinilah pertanian menemukan maknanya yang lebih luas. Ia bukan hanya tentang tanah, benih, tanaman, dan hasil panen. Pertanian juga berbicara tentang ketekunan manusia dalam mengubah potensi menjadi nilai, serta kemampuan masyarakat membangun masa depan dari sumber daya yang tersedia di sekitarnya.

Bagi Desa Candinegoro, budidaya melon dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat identitas desa sebagai wilayah yang produktif dan adaptif terhadap peluang ekonomi baru. Kehadiran Bupati Sidoarjo, Dandim 0816/Sidoarjo, unsur Forkopimcam Wonoayu, DPRD, pemerintah desa, BUMDes, tokoh masyarakat, kader, hingga generasi muda menunjukkan bahwa pembangunan desa membutuhkan keberanian untuk berinovasi sekaligus kesediaan untuk berjalan bersama.

Dari sebuah lahan sederhana di tengah persawahan Candinegoro, tumbuh sebuah harapan: bahwa desa bukan hanya tempat berlangsungnya pembangunan, tetapi juga sumber gagasan, produktivitas, dan kemandirian. Sebab ketika lahan dikelola dengan pengetahuan, potensi dirawat dengan ketekunan, dan seluruh unsur bergerak dalam satu semangat, hasil panen bukan hanya buah melon—melainkan juga buah dari kolaborasi dan harapan bagi masa depan masyarakat.


 

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia