Sidoarjo Jadi Pilot Project Ekonomi Sirkular, Subandi: Pengelolaan Sampah Plastik Harus Diperkuat

 

Peluncuran Kabupaten/Kota Percontohan Proyek InCircular digelar melalui kegiatan bertajuk “Dari Daerah, Menuju Masa Depan Ekonomi Sirkular Indonesia” di Hotel DoubleTree by Hilton Surabaya, Selasa (15/9/2026).(Foto:Kom)
SIDOARJO||KABARZINDO.com – Kabupaten Sidoarjo terpilih menjadi salah satu daerah percontohan Proyek InCircular di Jawa Timur. Program ini diarahkan untuk memperkuat pengelolaan sampah sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular di tingkat daerah.

Peluncuran Kabupaten/Kota Percontohan Proyek InCircular digelar melalui kegiatan bertajuk “Dari Daerah, Menuju Masa Depan Ekonomi Sirkular Indonesia” di Hotel DoubleTree by Hilton Surabaya, Selasa (15/9/2026).

Selain Sidoarjo, empat daerah lain yang menjadi percontohan yakni Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Probolinggo.

Proyek InCircular merupakan bagian dari upaya mendukung Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045. Program tersebut berfokus pada penguatan regulasi, kapasitas tata kelola, kolaborasi antarpemangku kepentingan hingga pengelolaan sampah.

Khusus di Jawa Timur, fokus material diarahkan pada alur sampah kemasan dan residu. Konsep ekonomi sirkular mendorong agar sampah yang masih memiliki nilai tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat digunakan kembali, didaur ulang dan dimanfaatkan secara optimal.

Peluncuran tersebut dihadiri Bupati Sidoarjo H. Subandi bersama jajaran Bappeda serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo. Program ini diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas bersama GIZ GmbH dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dengan dukungan pendanaan Pemerintah Jerman melalui BMZ.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut terpilihnya Jawa Timur sebagai provinsi percontohan menjadi peluang untuk memperkuat transformasi pembangunan yang lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya, rendah limbah dan berkelanjutan.

Emil mengungkapkan, timbulan sampah di Jawa Timur mencapai sekitar 6,5 juta ton per tahun. Namun, baru sekitar 25 persen yang terkelola secara optimal.

Menurutnya, persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga kapasitas kelembagaan, konsistensi pemilahan dari sumber, pembiayaan serta keterlibatan masyarakat dan dunia usaha.

“Melalui ekonomi sirkular, kita mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber, serta memperkuat pemanfaatan kembali dan daur ulang,” ujar Emil.

Sementara itu, Bupati Sidoarjo H. Subandi menyambut baik terpilihnya Sidoarjo sebagai daerah percontohan. Ia menilai program tersebut sejalan dengan upaya Pemkab Sidoarjo dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Subandi menekankan pentingnya pemetaan tempat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk TPS 3R, sebagai dasar menentukan langkah pengelolaan sampah yang lebih efektif.

“Pengelolaan sampah plastik ini penting. Mulai dari tingkat bank sampah sampai tingkat TPS 3R harus benar-benar kita perkuat dan memiliki komitmen yang besar,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan berbagai pihak lainnya.

Keterlibatan Sidoarjo dalam Proyek InCircular diharapkan tidak hanya memperkuat sistem pengelolaan sampah yang sudah berjalan, tetapi juga melahirkan inovasi baru dalam pengurangan sampah, pemilahan dari sumber serta pemanfaatan kembali material yang masih bernilai.

Sementara itu, Emil berharap pengalaman lima daerah percontohan dapat menghasilkan solusi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Praktik dan kerangka pengembangan tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi pembelajaran serta direplikasi oleh kabupaten/kota lain di Jawa Timur.

Reporter:Red


 

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia