![]() |
| Dauroh ke-Aswaja-an dan ke-NU-an bagi ratusan mahasiswa penerima beasiswa jalur prestasi keagamaan angkatan 2023 dan sebagian Angkatan 2024.(Foto:Dok) |
Pembukaan dauroh dilaksanakan pukul 08.30–12.00 WIB atas mandat Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Sejumlah perguruan tinggi mengirimkan mahasiswa penerima beasiswa untuk mengikuti program pembinaan tersebut, di antaranya Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Universitas Airlangga, UIN Sunan Ampel Surabaya, UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Brawijaya, dan Universitas Islam Malang (UNISMA).
Ketua PW LAKPESDAM NU Jawa Timur, Prof. Dr. H. Muhammad Turhan Yani, S.Ag., M.A., yang membuka kegiatan, mengapresiasi penyelenggaraan dauroh sebagai ruang pembinaan bagi mahasiswa penerima beasiswa jalur prestasi keagamaan. Menurut beliau, mahasiswa memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah sekaligus mengembangkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Beliau berharap, pembinaan tersebut tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan keagamaan, tetapi juga mampu melahirkan kader yang dapat mentransformasikan nilai-nilai Aswaja di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
“Mahasiswa penerima beasiswa ini diharapkan menjadi kader NU yang mampu membawa dan mentransformasikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah di tempat masing-masing. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan dalam sikap, pemikiran, dan tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” menjadi pesan utama dalam pembukaan dauroh tersebut.
Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Moch. Shofwan, M.Sc., yang juga Wakil Bendahara PW LAKPESDAM NU Jawa Timur, menjelaskan bahwa dauroh dirancang sebagai program pembinaan berkelanjutan. Berdasarkan kerangka acuan kegiatan atau Term of Reference (ToR), pelaksanaan dauroh dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2026, dengan pertemuan setiap dua pekan sekali pada hari Sabtu.
Menurut Shofwan, pola pembinaan berkala tersebut disusun agar peserta memperoleh kesempatan untuk memahami materi secara bertahap, mendiskusikan persoalan keagamaan dan kebangsaan, serta mengembangkan kapasitas diri sebagai mahasiswa sekaligus kader organisasi.
Setiap peserta mendapatkan modul pelatihan dan pembinaan berjudul Kader Bangsa, Santri Peradaban. Modul itu disiapkan sebagai bahan belajar selama rangkaian kegiatan berlangsung sekaligus referensi bagi mahasiswa dalam memperdalam wawasan keislaman, ke-NU-an, dan kebangsaan.
“Dauroh ini tidak hanya dirancang sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai proses pembinaan yang berlangsung secara bertahap hingga Desember 2026. Setiap peserta memperoleh modul sebagai pegangan belajar. Pada akhir kegiatan juga akan dilaksanakan monitoring dan evaluasi untuk menilai proses serta perkembangan peserta selama mengikuti pembinaan,” jelasnya.
Selain evaluasi, peserta yang mengikuti rangkaian dauroh akan memperoleh sertifikat pada akhir kegiatan. Skema tersebut diharapkan mendorong kesungguhan peserta dalam mengikuti seluruh tahapan pembinaan dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
Kegiatan pembukaan itu dihadiri seluruh pengurus PW LAKPESDAM NU Jawa Timur. Kehadiran jajaran pengurus menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan kapasitas mahasiswa melalui pendidikan kader yang terstruktur dan berkelanjutan.
Materi pertama disampaikan Dr. Ahmad Khoirul Mustamir, M.Pd., serta di moderatori oleh Ibu Lilik Maslamah, M.Pd.I. yang juga Wakil Ketua PW LAKPESDAM NU Jatim dengan tema “Memperkuat Karakter Ahlussunnah wal Jama’ah, Menegaskan Intelejensia Muslim Indonesia”.
Materi tersebut menjadi pijakan awal bagi peserta untuk memahami pentingnya karakter Aswaja dalam membangun tradisi intelektual Muslim Indonesia. Penguatan karakter keagamaan diharapkan berjalan seiring dengan kemampuan berpikir kritis, keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dalam konteks mahasiswa, penguasaan nilai-nilai Aswaja menjadi penting agar tradisi keilmuan, sikap moderat, dan komitmen kebangsaan dapat tumbuh secara seimbang. Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki prestasi akademik, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan dan tindakan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Sekretaris PW LAKPESDAM NU Jawa Timur, Yeni Lutfiana Mahmud, S.Ag., M.Med. dalam arahannya menegaskan bahwa dauroh memiliki tujuan strategis, yakni memperkuat karakter ideologis peserta, memperdalam sanad pemikiran, serta membentuk kepemimpinan yang tangguh, visioner, dan berjiwa Pancasila.
Menurut beliau, pembinaan mahasiswa perlu dilakukan secara konsisten agar generasi muda memiliki fondasi pemikiran yang kuat, mampu menghadapi perubahan zaman, dan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman serta kebangsaan.
Penguatan sanad pemikiran, dalam konteks ini, menjadi bagian penting untuk mengenalkan kesinambungan tradisi keilmuan dan pemikiran Nahdlatul Ulama. Dengan fondasi tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menempatkan diri secara bijaksana di tengah dinamika sosial, perkembangan teknologi, dan tantangan kehidupan berbangsa.
Antusiasme peserta terlihat dari apresiasi terhadap fasilitas pembinaan yang diberikan penyelenggara, khususnya modul Kader Bangsa, Santri Peradaban. Salah seorang peserta dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyampaikan terima kasih atas modul yang dibagikan karena dinilai bermanfaat sebagai bahan bacaan selama menjalani aktivitas akademik di kampus.
Bagi peserta, modul tersebut tidak hanya menjadi bahan pendamping dalam mengikuti dauroh, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk memperluas pemahaman tentang keislaman, tradisi pemikiran NU, dan tanggung jawab mahasiswa dalam kehidupan kebangsaan.
Melalui program yang berlangsung hingga Desember 2026 ini, PW LAKPESDAM NU Jawa Timur berharap pembinaan mahasiswa penerima beasiswa jalur prestasi keagamaan dapat berjalan lebih sistematis. Perpaduan materi, diskusi, modul pembelajaran, serta monitoring dan evaluasi diharapkan menghasilkan kader muda yang memiliki integritas, kecakapan intelektual, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.
Dauroh ini sekaligus menegaskan bahwa beasiswa tidak semata-mata menjadi dukungan terhadap keberhasilan akademik mahasiswa. Lebih dari itu, kesempatan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan karakter, pengembangan kapasitas kepemimpinan, dan penyiapan generasi intelektual Muslim yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.
Reporter: Red



