![]() |
| Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Delta Sidoarjo mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus.(Foto:Dok) |
SIDOARJO||KABARZINDO.com – Kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus menuai kecaman keras dari kalangan mahasiswa. Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Delta Sidoarjo mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut hingga ke aktor intelektual yang diduga berada di balik peristiwa tersebut.
Mahasiswa menilai tindakan penyiraman air keras merupakan bentuk kekerasan yang sangat brutal dan tidak berperikemanusiaan. Serangan dengan metode tersebut tidak hanya menyebabkan luka fisik yang serius, tetapi juga berpotensi menimbulkan trauma psikologis jangka panjang bagi korban.
Koordinator Aliansi BEM Delta Sidoarjo Sultan Saladin Batubara menegaskan bahwa kasus ini tidak boleh dipandang sebagai tindak kriminal biasa. Menurutnya, penyiraman air keras merupakan kejahatan serius yang harus ditangani secara cepat, profesional, dan transparan oleh aparat penegak hukum.
“Kami mengecam keras tindakan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Ini bukan sekadar tindak kekerasan biasa, tetapi kejahatan brutal yang melukai kemanusiaan. Karena itu, aparat penegak hukum harus mengusut kasus ini hingga tuntas, termasuk mengungkap siapa pun yang berada di balik peristiwa tersebut,” ujarnya.
Ia menilai, kejadian tersebut juga memunculkan rasa khawatir di tengah masyarakat karena kekerasan dengan cara seperti ini dapat menciptakan ketakutan di ruang sosial.
“Ketika tindakan sebrutal ini bisa terjadi, maka yang terancam bukan hanya korban secara individu, tetapi juga rasa aman masyarakat. Negara harus hadir memastikan bahwa hukum benar-benar ditegakkan dan pelaku tidak dibiarkan lolos dari pertanggungjawaban,” tegasnya.
Mahasiswa juga menyoroti bahwa kasus penyiraman air keras di Indonesia sering kali menjadi perhatian publik karena berkaitan dengan persoalan keadilan. Salah satu kasus yang masih diingat luas oleh masyarakat adalah penyiraman air keras terhadap penyidik senior Novel Baswedan pada 11 April 2017.
Serangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi tersebut mengakibatkan kerusakan permanen pada salah satu mata korban dan sempat memicu kritik luas dari masyarakat karena proses penanganannya dinilai berjalan lambat.
Koordinator Aliansi BEM Delta Sidoarjo menilai pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran penting agar kasus yang menimpa Andrie Yunus tidak kembali menimbulkan keraguan publik terhadap proses penegakan hukum.
“Kami tidak ingin kasus seperti ini berlarut-larut tanpa kejelasan. Kepolisian harus bekerja cepat, profesional, dan terbuka kepada publik. Jika ada pihak lain yang terlibat, termasuk aktor intelektual di balik peristiwa ini, semuanya harus diungkap tanpa pandang bulu,” katanya.
Aliansi BEM Delta Sidoarjo juga mengajak masyarakat sipil untuk bersama-sama mengawal proses hukum yang sedang berjalan agar kasus tersebut benar-benar menghasilkan keadilan bagi korban.
“Penegakan hukum yang tegas sangat penting untuk memastikan bahwa kekerasan seperti ini tidak kembali terulang. Jika kasus ini tidak ditangani secara serius, maka yang dipertaruhkan bukan hanya keadilan bagi korban, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap hukum,” pungkasnya.
Kontributor: Mahdiaz Alamsyah



