![]() |
| Bupati Sidoarjo H. Subandi meninjau langsung kondisi salah satu ruang kelas yang atapnya ambruk.(Foto:Dok/Kom) |
Kehadiran Bupati Sidoarjo didampingi Kadispendikbud, Tirto Adi, Kepala BPBD, Sabino, anggota DPRD Fraksi PKB, Elok Suciati, dan Camat Buduran, Suprayitno.
Langkah ini diambil merespons ambruknya atap ruang kelas akibat hujan deras beberapa waktu lalu, sekaligus mencari solusi atas minimnya ruang kelas di sekolah tersebut.
Dalam sidak, Subandi menegaskan bahwa Pemkab akan mengambil langkah cepat (jangka pendek) dan rencana strategis (jangka panjang).
"Hasil peninjauan menunjukkan kondisi ruang belajar memang sudah tidak memadai, baik fasilitas maupun bangunan. Atapnya rusak berat," ujar Subandi di lokasi.
Subandi menawarkan dua skema perbaikan. Untuk penanganan kilat agar siswa bisa segera belajar dengan nyaman, Pemkab melirik penggunaan dana Belanja Tak Terduga (BTT).
"Jika ingin solusi cepat, sementara bisa pakai dana BTT untuk pembenahan atap dan plafon. Tapi untuk jangka panjang, saya sarankan perencanaan gedung dua lantai mulai akhir 2026, agar 2027 bisa terealisasi," tegasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo, Tirto Adi, mengakui keterbatasan ruang kelas di SDN 1 Sidokepung menjadi atensi serius. Meski begitu, ia menyebut ada penyesuaian anggaran di tahun berjalan.
"Untuk tahun 2026 ini memang belum ada alokasi khusus karena efisiensi anggaran. Namun kami tetap mengupayakan solusi sesuai arahan Bupati," kata Tirto.
Tirto memaparkan, saat ini Pemkab Sidoarjo tengah menggarap 54 titik perbaikan infrastruktur pendidikan dengan total anggaran sekitar Rp47 miliar. Beberapa proyek sudah berjalan, sementara paket tender lainnya sedang menunggu tahapan lanjutan.
Menurut Elok, jika menggunakan pokir akan dilihat nanti saja, apa yang bisa dibantu. "Namun tetap akan diupayakan kalau pokir bisa digunakan untuk membantu pembangunan tambahan ruang kelas itu," ujarnya.
Reporter:Red



